Sabtu, 23 November 2013

Sahabat atau Kekasih part 3

Lanjutan Sahabat atau Kekasih part 2

 Dan setelah semua terjadi dengan begitu cepatnya dengan disertai isak tangis dari seorang mantan "Kakak" yang dulunya berkata sulit untuk meninggalkan rasa nyaman ini. Entah apa yang terbesit dalam pikiranku sekarang tak sejalan dengan apa yang harus aku lakukan. Yang ada dalam pikiranku sekarang hanyalah tetap maju untuk menjalani kehidupan dan tetap bertahan dengan tujuan utama yaitu mencari kepercayaan penuh akan seorang sahabat. Namun aku berfikir lebih dalam lagi, apa aku akan mendapat sahabat yang nantinya memiliki perasaan lebih dan akan merusak persahabatan kita, atau perasaan stay sebagai seorang sahabat dan bisa mengawetkan ikatan sebuah sahabat. 

****

  Terhitung satu minggu setelah Sekolah gue pulang dari serangkaian Tour yang melelahkan, semua terasa sangat berbeda. Entah kenapa saat gue menjalani Tour Ke Pulau Dewata seaakan terdapat salah satu dewa yang membuat perasaanku kacau tak tentu arah. Yang membuat gue senang yaitu gue jadi dekat dengan seorang siswi yang sebelumnya bahkan aku belum sedekat ini dengan dia. Kami saling memperhatian, selama 5 hari tour kami bener-bener duduk berdua dan gue sempet sekali tertidur di pundaknya. Memang perasaan ini begitu tak bisa diungkapkan dengan apapun karena gue bisa dekat dengan beberapa orang termasuk Yola yang selalu bersamaku. Dan hal yang membuat gue bingung, ada pandangan berbeda ketika gue melihatnya, mendengar semua ceritanya . Terpancar perasaan yang tak biasa. apakah mungkin dia menyukai gue dan gue jatuh cinta padanya? tapi gue sepertinya bermimpi mendapatkan wanita seperti dia, karena gue nggak ada apa-apanya dibanding dia dan gue sadar keterbatasan gue. Dan semakin hari gue bersama dia, semakin gue nyaman denganya. Tapi gue bilang pada diri gue sendiri buat nggak naksir denganya, karena gue belum kenal betul dengan dia.

****

  Ini adalah minggu ke-3 setelah gue kenal deket dengan Yola, Akhirnya gue deket juga dengan sahabat-sahabatnya (Veny,Putri,Heny,Michele,Susan,Njuk) . gue merasa nyaman dengan mereka dan gue semakin yakin kalo sahabat bisa dipercaya sepenuhnya. Alasan gue mengatakan demikian karena mereka sangat perhatian dengan gue melebihi sekedar teman dan dimana ada gue sekarang mereka pun hadir, itu berarti hidup gue udah nggak kesepian lagi . 

  Terlepas dari cerita gue mencari seorang sahabat memang belum sepenuhnya selesai, namun ada gejolak baru lagi yang tumbuh mekar di relung hati gue. Seorang siswi yang tak lain orang yang bisa memikat hatiku dengan pesona pandangan pertamaku padanya, tapi sekali lagi gue masih trauma dengan apa yang namanya cinta. Tapi gue nggak bisa memungkiri bahwa sekarang gue kesepian dan gue membutuhkan seorang wanita yang melebihi sebuah sahabat. Memang semua sahabatku cewek namun mereka pun juga sudah berpasangan kecuali Yola, entah apa yang dia rasakan namun yang ku tau dia juga masih trauma dengan yang namanya cowok karena dia berulang kali terkena rayuan mantan pacarnya. Niat gue sudah bulat, gue nggak mikir apa yang terjadi yang penting gue bisa ngedapetin orang yang bisa memikat gue. Setelah gue kenalan dan mencari segala sesuatu tentang siswi bernama Marsha itu, gue ngerasa kalo memang gue telah jatuh cinta dengan cewek itu. Memang Marsha masih single, tapi yang menjadi permasalahan pokok adalah dia terjebak dengan nostalgia cinta lamanya. Gue mikir bodoh banget dia ngeharepin seorang mantan yang sudah jelas menyakitinya, sedangkan disini gue naksir sama dia itulah alasan gue menjadi yakin untuk mendekati hatinya.
  Sebulan gue melakukan pendekatan dengan nya ternyata perasaanya ke gue masih TAP ( Tidak Ada Perubahan ). dia belum sekali pun merasakan perhatian gue, jadi intinya usaha gue selama ini sia-sia tak berujung. Sebagai seorang cowok yang mengerjar hatinya, gue nggak pantang menyerah buat ngejar dia. setelah akhirnya gue tau kalo dia masih saja menyimpan perasaan ke mantanya yang tak lain adalah tetangganya sendiri. alasan dia selalu berinteraksi dengan makluk yang bernama mantan sekaligus tetangga itulah yang membuat dia gagal membuka hati ke gue, sampai akhirnya gue sudah di titik perjuangan dan gue menyatakan isi hati gue dalam keadaan gue belum tau perasaan dia apakah sudah mulai nerima gue atau belum sama sekali. Dan hal yang tidak aku inginkan terjadi, setelah gue menyatakan perasaan gue langsung ternyata dia malah menertawakanku dan dia mengacuhkan kata-kata ku. betapa sakitnya hati gue akan kelakuanya. Tidak sadikitpun dia menghargai pengorbananku dan perjuanganku mendapatkan hatinya. Gue ngerasa sebagai manusia yang tidak pernah bahagia karena penolakan saat itu. Untung saja hadirlah seorang sahabat yang bisa menenangkan hati gue yang sedikit membantu gue melupakan semua yang menyakitkan perasaan gue. Yola begitu perhatian dengan gue dan entah kenapa gue sama sekali nggak respek denganya dan tetap hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat.

****

  Sebulan setelah hati gue remuk karena perlakuan Marsha gue memutuskan buat melupakan dia dan nggak mau peduli lagi dengan semua yang terjadi padanya, namun fakta berkata lain, setelah gue jarang Menghubungi dia lagi tiba-tiba dia jadi sering sms gue dan menanyakan kenapa gue nggak pernah sms dia lagi. Emang sih gue masih agak mangkel dengan kelakuanya, tapi nggak bisa dipungkiri kalo gue pernah suka sama itu cewek dan gue berusaha membalas semua pertanyaanya tapi dengan nada sedikit datar. Sial nya saat dia ngajak gue bercanda tentang suatu hal, gue malah terlena dan sikap dingin gue pun mendadak hilang. dan lebih parahnya lagi rasa suka ke dia tumbuh lagi di hati gue.

  Hari ini berjalan seperti biasa dengan semua hamparan hati yang kosong. entah apakah nantinya ada yang mengisi ataukah akan selalu seperti ini, namun yang membuat aku bertahan sampai sekarang adalah kehadiran para sahabat yang bisa membuat aku selalu gembira untuk tidak memikirkan kesendirian ini. Sama halnya dengan sahabat Marsha yang berusaha untuk mendekatkan gue dengan dia setelah mereka tau kalo gue serius dan sayang banget sama Marsha. Seribu bahkan seribu satu cara untuk menolong gue dilakukan dengan hasil yang bisa dibilang lancar. Tidak lebih dari 2 minggu setelah dia curiga kenapa gue nggak perhatian lagi sama dia. Nani seorang sahabat yang paling dekat dengan Marsha ngomong kalo Marsha sepertinya sudah luluh akan kejaran maut gue. emang awalnya gue nggak percaya , tapi gerak-gerik Marsha yang cemburu waktu gue jalan bareng Nani sudah menunjukkan kalo dia bener-bener sudah terpikat dengan gue, dan gue nggak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. 


  ****

  26 Januari adalah saksi bisu tentang kisah pencarian separuh hatiku terhadap seorang wanita yang telah lebih dari 6 bulan aku dekati dan aku beri segenap perhatianku. dan tanggal itulah yang mempersatukan kami dalam satu ikatan yaitu Pacaran. Memang ini tak mewah, tapi ini sudah cukup untuk membuat hidup gue semakin ramai dan bervariasi. dan dengan tanggal ini pula komitmen gue untuk menjaga utuh Separuh Hati gue sudah berkibar tinggi dan tidak akan pernah ada orang lain yang merusak komitmen gue itu.
  Sebulan sudah gue pacaran dengan wanita dambaan gue, dan ternyata gue merasakan apa yang sahabat gue rasakan yaitu mendapat perhatian lebih dari seseorang yang merasa memiliki kita, walaupun gue belum merasa dia menyayangi gue sepenuhnya tapi sikap dia yang merasa gue nyaman cukup untuk membuat gue lega.
  Tiba pada bulan kelima dimana gue harus ngejalani hubungan Jarak jauh karena Kegiatan sekolah ditiadakan untuk sebulan. alasan ditiadakanya kegiatan sekolah adalah untuk melakukan tugas bagi para siswanya untuk menjalankan Praktik kerja lapangan atau Magang. Disini gue berfikir apakah gue bisa ngejalani ini dengan lancar. Karena gue nggak yakin dengan diri gue kalo gue bisa betah tanpa ketemu dia selama lebih dari sebulan. Disini cerita cinta gue diuji oleh dewa asmara, bagaimana gue berkorban menempuh berkilo-kilo meter hanya untuk bertemu sesekali dalam seminggu. Gue rela hujan-hujanan untuk kerumahnya, gue kepanasan, gue balapan dengan truck-truck yang sama sekali nggak ramah dengan kendaraan gue, masih lagi rasa penat gue setelah seharian Magang. Tapi itu nggak pernah menyulutkan niat gue untuk ketemu dengan kekasih gue. 
  Siang ini memang saatnya gue ketemu dengan pacar gue, tapi tak bisa dipungkiri gue capek banget, Entah mengapa hari ini dia berbeda, dia seakan nggak mau ngerti apa yang gue alami. dia cuma mikirin gue harus ada disampingnya, tanpa memikirkan bagaimana pengorbanan gue, bagaimana jauhnya gue untuk datang kesana. Dan dia pun langsung marah tanpa memberi kabar ke gue. Disitu gue mikir kalo gue cuma robot yang disuruh menemani hari-harinya dan mengisi kesepian dia. Dan saat itu juga gue cuma takut dengan satu hal jika dia ngabarin gue nanti, gue takut dia ngucapin kata "PUTUS". Berpuluh-puluh kali gue telpon nggak ada satupun yang dia angkat, hingga akhirnya gue mutusin buat kerumahnya sore itu juga. Tapi setelah sampai dirumahnya, gue dibiarin buat nunggu diluar, dia nggak mau nemui gue sedetikpun. Hanya Mama nya yang mau menemui gue dan mengajakku berbicara, walaupun sebenernya mama nya pun sedikit tidak menyukai gue karena terdapat perbedaan Keyakinan Antara kita. Dari situ gue berfikir dia sudah nggak menyayangi gue setulus pertama kita jadian, dan gue harus siap-siap untuk menerima kemungkinan buruk yang akan terjadi. Hujan pun begitu lebat sehingga menghalangi perjalananku untuk pulang dari rumahnya. gue pun seakan tak peduli dengan dinginya hujan dan aku tetap melanjutkan perjalanan pulang gue. Pikiran akan Marsha terus membayangi sehingga membuatku tidak tenang sepanjang aku mengendarai kendaraanku, dan rasa pening di salah satu bagian kepalaku menambah deritaku di hari yang amat tidak ingin aku rasakan. Tapi gue tetap bersyukur bisa sampai di tempat tidur kesayanganku dengan selamat.
  
****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar