Senin, 16 Desember 2013

Ah...Teringat lagi...

Masih teringat jelas suara itu yang dulu mengatakan kata-kata manis yang selalu membuat perasaanku terhanyut oleh kata-kata yang indah terdengar. Masih jelas nada-nada indah itu beresonansi dalam hanyutnya malam yang dingin ini. Embun membasahi ranting-ranting pohon yang sedari pagi telah mengigil kedinginan oleh karena hujan yang datang tiada henti. Aku selalu tak bisa menghilangkan ingatan ku tentangmu di dalam situasi seperti ini yang kerap sekali datang menderu ketenanganku. Aku memang tidak menyalahkan kamu atas apa yang menimpaku, namun sampai saat ini pun aku tidak juga tahu siapa yang bertanggung jawab atas ini semua.

Aku masih kenal betul semua gambaran wajahmu, paras indah yang terpampang dalam dirimu membuatku tak kan pernah melupakanmu di setiap mimpiku. aku selalu memimpikanmu berada di dalam dekapanku dan selalu dalam keadaan hangat di pelukanmu. Hal yang tak bisa aku lupakan serupa dengan keadaan yang sekarang terjadi, namun apakah kamu ingat dulu saat kita terjebak di dalam derasnya hujan hanya berdua dan tidak ada satupun orang yang mengganggu keromantisan kita saat itu? Apa kamu masih ingat bahwa kamu tidak membiarkanku untuk berkendara dalam keadaan kedinginan? Kamu ambil jaketmu dan kau kenakan pada tubuhku yang saat itu tak cukup tangguh melawan derasnya hujan dan dinginya angin yang bertiup. Kau mendekap erat tubuhku dan berusaha untuk membuatku merasa hangat tanpa memperdulikan keadaanmu yang sedang kedinginan juga. Aku ingat betul jika kau melarangku berkendara dengan kacamata minus ku ini yang basah dan menghalangi pandanganku. Dan kamu mencubit ku dengan halus ketika laju kendaraanku sedikit terasa kencang, saat itu kamu bilang bahwa keselamatan ku lebih penting karena aku tidak mengenakan alat bantu untuk melihat jadi kamu menyuruhku sedikit lambat saat berkendara. Semua itu bagaikan sepaket kenangan yang tak pernah bisa dipisahkan satu persatu dan selalu akan selalu berada di dalam renungan ku setiap malam. dan aku selalu ingat semua itu disaat hujan selalu datang dengan lebatnya.

Ya, memang benar aku belum bisa mengusir kesepian di setiap malam. Aku masih sering memandangi semua kenangan yang kamu berikan. Aku selalu mengabadikan Pesan singkat yang selalu mengingatkanku bahwa kamu dan aku pernah menjadi kita dulu. Aku tidak pernah sekalipun menghapusnya bahkan aku backup semua agar tidak pernah hilang dari ponselku. Sampai sekarang aku juga masih menyimpan jam tangan yang pernah kamu berikan di saat umurku yang ke 17 lengkap dengan ucapan yang membubuhkan kata-kata cinta. Meskipun aku tidak bisa menjaga jam itu dengan sangat baik, namun setidaknya jam tangan itu tidak pernah ku biarkan menggores benda apapun. 

Namun sayang satu hal yang tidak akan pernah aku bisa lakukan untuk mengabadikanya adalah sebuah rosario indah yang kamu kenakan sejak kamu masih kecil. Aku gagal mempertahankan rosario itu yang pernah sebulan lebih aku simpan dan aku gunakan dengan sepenuh hatiku. Padahal aku sangat ingin menyimpanya, namun semua tidak bisa dipertahankan lagi.

Banyak sekali yang sulit terlepas dari kehidupan lalu ku bersamamu. semuanya begitu indah ketika terulang kembali, dan aku selalu kehilangan kendali sehingga aku mengingatnya terus...terus...dan terus. Bahkan sampai saat ini sampai kamu telah menemukan pengganti diriku aku masih tetap memiliki rasa yang sama dengan rasa yang kumiliki saat kita bersama. Walau aku tahu kamu juga masih merindukanku dan terkadang kamu menanyakan keadaanku, namun rasa gengsimu untuk memperdulikanku lagi terlalu besar sehingga menutupi tali kedekatan kita. 

Rabu, 11 Desember 2013

Mengingatkanku akan hari itu

Pagi ini terasa seperti biasa aku menjalani setiap pagiku. Masih terasa hampa tanpa ada hadirnya seseorang yang spesial dalam hidupku. Inilah yang membuatku tidak kunjung bisa untuk melupakan cerita masa laluku yang sepertinya tak pernah bisa padam dari hidupku. Tak kecuali hari yang dirasa semua umat di dunia fana ini adalah hari yang spesial karena entah tanggal yang tersusun berurutan apakah karena hari rabu ini datang setelah hari selasa usai. Semua sosial media pun menjadi tempat pemberitahuan tentang semua kebahagiaan yang dirasakan di hari yang dibilang spesial ini. 1000 lebih status yang mengagung-agungkan hari ini terasa bosan untuk kubaca, seperti di dunia ini sudah tidak ada hal penting yang harus dikaji kembali. Namun bagiku tanggal 11-12-13 ini berkesan sangat datar, tak seramai para cendikiawan twitter atau facebook yang berlomba-lomba menghiasi beranda dengan kata-kata yang menurut mereka kece untuk di bagikan berdasarkan kisah yang mereka alami hari ini.Entah mereka benar-benar mengalami atau hanya narasi untuk sekedar menunjukan bahwa mereka tidak ingin kalah dengan pengguna akun yang lain. Tapi apalah aku ini, hanya terdiam dan tidak se akrab mereka untuk menerima hari ini, aku seakan tidak pernah perduli dengan apa yang akan terjadi di hari absurd ini. Apa aku harus berguling-guling ditengah kehampaan hati ini, atau aku harus bolak-balik merangkak untuk keluar dalam jurang penyiksaan batinku ini. mungkin karena aku tidak seperti mereka yang mempunyai seorang pasangan secantik juliet atau seromantis romeo. Entah kapan aku bisa seperti seperti dewa poseidon yang tak mengenal indahnya hari ini, seperti para dewa yang tak perlu menunggu hari spesial, karena mereka bisa mendapatkan semua yang diinginkan dengan mudahnya. Berbeda dengan perasaanku berbeda dengan Dewa Poseidon karena aku tak pernah bahagia seperti Poseidon.

Itulah kisah pagi hariku yang kurarapkan kamu selalu tau perasaanku setiap hari kepadamu. Tapi aku menyadari bahwa kamu tidak akan pernah peduli padaku lagi.jangankan peduli, mendengar namaku aja kau enggan untuk mendengarkanya. Aku selalu berangan-angan bahwa aku masih bersamamu saat ini, sehingga hari ini aku juga bisa merasakan hari spesial seperti yang banyak orang banggakan. Namun kenyataannya itu semua sepertinya tidak akan terjadi dan tidak akan pernah bisa menjadi kenyataan. Setiap kali aku memandang jam yang sedang berjalan, aku selalu mengatakan kepada hatiku jika impianku mengahabiskan hari ini padamu mungkin akan terwujud. 24 Jam bukan waktu yang sebentar dengan kesabaranku menunggu dan selalu menunggu kemungkinan itu datang. Hingga akhirnya 23:23 pun datang menghampiri dan menandakan bahwa sebentar lagi hari spesial yang di katakan banyak orang tidak akan terjadi padaku. Sekali lagi aku gagal merasakan sebuah kebahagiaan untuk bersamamu. Kamu terlalu jauh untuk ku raih, karena kupu kupu kecil sepertiku tak akan bisa melebihi tingginya elang yang terbang indah sepertimu. Kita bagaikan langit dan bawah tanah yang dibedakan dengan segala macam ketidak pantasan untuk kita bersatu. Aku selalu menyadari akan itu semua, namun itu bukan berarti aku tidak pernah boleh berharap kepada Sang Narendra bukan? Di setiap nafas ku berdoa tak pernah lupa ku sebut namamu dan memintakan kebahagiaan kepadamu setiap pagi hingga malam berganti. Namun apakah kamu pernah sekali pun tahu dengan segala pengorbananmu padamu? Akupun sadar bahwa segala sesuatu tentangku tak pernah penting untuk kau ketahui.

Aku selalu ingat hari itu, hari yang lebih indah dari hari ini. Aku selalu ingin saat itu terulang kembali meskipun hanya sebentar. Keindahan saat kau mengucapkan kata sayang padaku tak pernah bisa aku hapus dari lubuk hatiku yang terdalam. Meskipun semua berujung dengan rasa sakit, tapi aku tak pernah menyesal sempat memilikimu. Aku tak pernah memiliki rasa benci karena perlakuanmu, karena hati ini merasakan rasa sayang yang semakin bertambah seiring rasa sakit yang kau tambahkan dalam hatiku. Ya inilah aku yang selalu terlupa oleh banyak hal namun tak sedikitpun pernah terlupa tentangmu.

Apa kau juga demikian ? Apa kau juga selalu ingat saat hari itu? apa kau juga ingat apa yang dulu pernah kau katakan untuk meyakinkan jika kau memang sayang padaku. Kata-kata indahmu belum pernah sedikitpun terlupa dari pikiranku. Aku selalu ingin mengais-ngais kenangan masa-masa indah ketika bersamamu. Terkadang kamulah yang memaksaku untuk menostalgia cerita lama dengan Statusmu di sosia media yang terlihat sedikit Galau tapi entah untuk siapa kau menulis. Apa mungkin itu tentang aku? Apa mungkin kamu merasakan apa yang aku rasakan sekarang? Entah sampai kapan aku harus merasakan seperti ini . Sampai kapan aku akan mengabaikan hari-hari spesial yang berlalu lalang di kehidupan ini. Dan sampai kapan aku akan mengingatmu?

*Salamku Untukmu yang selalu ku rindu saat hari itu di suatu tempat*

Selasa, 10 Desember 2013

Kenangan yang terlalu indah

  
Hingga kini aku masih belum tangguh untuk melupakanmu. Masih sering melihat bayangmu berlarian dipikiranku. Semua menjelma menjadi rasa rindu yang tiba-tiba menusuk tajam hingga menembus hati ini yang belum sembuh benar semenjak kau sakiti dulu. Memang ini waktu yang terbilang lama untuk bisa melupakanmu. Tapi setiap hari aku selalu berusaha untuk menghapus semua memori tentang dirimu. Terkadang aku heran, apakah kamu yang terlalu indah untuk aku lupakan atau aku yang terlalu bodoh untuk masih berharap kepadamu sampai saat ini. Namun yang ku tahu sampai saat ini hatiku masih merasakan perasaan yang sama seperti perasaan yang terdahulu. Walaupun perasaan itu sedikit demi sedikit mulai memudar, namun kau tak pernah tau semakin sakit perasaanku untuk melupakanmu.

Sampai kapankah hal ini terjadi, berulang kali dalam hidupku aku merasakan perasaan sakit karnamu. Di dalam hatiku masih ada perasaan tidak mau menerima perlakuanmu yang menyakitkan ini, terkadang perasaan untuk membalas pun merasuki relung hatiku, namun apa aku cukup kuat untuk membalas ini semua? Aku hanyalah seekor semut kecil yang berusaha untuk tetap menjalani kehidupan meski tidak berdaya untuk melakukan hal besar. Tapi apa semut kecil sepertiku tidak boleh merasakan kebahagiaan? Kebahagiaan yang sekarang kau rasakan bersama seseorang yang selalu ku benci dan tidak pernah aku suka. Memang aku tak pernah kenal dia, tapi yang ku tau dialah yang merusak kebahagiaanku dengan memilikimu. Tak henti-hentinya sakit yang menusuk-nusuk perasaanku ini. Kapankah engkau tau bahwa aku tulus menyayangimu tanpa syarat apapun.

Aku tahu bahwa dia jauh lebih baik dari aku. Namun akulah yang lebih dulu mencintaimu, apakah aku salah meminta kebahagiaanku yang pernah menjadi milikku. Aku terlalu rapuh tanpamu disini,seperti tidak ada lagi semangat yang membara dalam diriku seperti dulu ketika kamu menghuni ruang semangatku. Dulu kau selalu menggenggam jemariku saat aku terpuruk dengan hal buruk yang menimpaku, kau selalu menenangkanku, tak jarang kau mencium ku untuk sekedar membuat ku kembali tersenyum dan membuatku kembali merasakan kebahagiaan. kau juga memelukku dengan lembut hingga membuatku nyaman bersamamu dan melupakan hal menyedihkan yang terjadi saat ini. Tapi sekarang, disaat aku gagal di dalam usahaku, tak ada lagi kamu, tak ada lagi yang menggenggam jemariku, tak ada lagi yang menciumku dan tak ada lagi yang memberikan pelukan hangat yang membuat suasana menjadi luluh. Kini aku benar-benar sendiri, tak ada tempat untuk menangis seperti dulu aku selalu menangis di pundakmu. Tak ada tempat untukku bersandar seperti dulu aku selalu bersandar di sampingmu. Semuanya terlalu cepat sirna menjadi sebuah kesedihan dan kerinduan yang sulit untuk dihapuskan. Kapankah aku merasakan semuanya itu lagi Tuhan? Apakah Engkau menghendaki sekali lagi untuk terjadi dalam hidupku? Aku selalu merindukanya dan selalu menyimpan perasaan ini di dalam hatiku yang paling dalam, walaupun suatu saat nanti rasa ini akan hilang, namun kapan hal itu terjadi hanya Engkau Tuhan yang Tahu. *Salam rindu ku untukmu.

Sabtu, 30 November 2013

Datang dan Pergi Kembali


 Semakin hari semakin terasa berat ku melangkah menyusuri setetes demi setetes takdir ku yang terasa begitu kurang membahagiakan. Memang aku bisa tersenyum namun dibalik senyumku tergambar seberkas hati yang rapuh. Memang aku bisa tertawa lepas, namun di dalam hatiku ingin rasanya ku menangis. Entah sampai kapan ku sanggup menahan semua keadaan yang ku rasa tak akan pernah ada akhirnya ini.

 Semua memang tak ada akhirnya, setelah sekian lama aku tenang, aku tidak mendapat usikan dari berbagai sumber kekacauan. Namun kau datang dengan ceritamu dulu dan kau memaksa ku untuk membuka cerita yang telah lama ku pendam, aku sudah mengubur dalam-dalam cerita pahit itu, namun dirimu membuka kembali kuburan hidup itu dan membangkitkan semua kenangan-kenangan yang tersimpan di dalamnya. Tanpa engkau tauh betapa mulai rapuh kembali diriku, hati ini seperti kembali mengharapkanmu, memang aku selalu menginginkanmu karena kau begitu indah untuk ku miliki. Semua yang tergambar dalam dirimu sunggu karunia Tuhan yang begitu sempurna. Tapi aku tahu aku tidak akan pantas dan tidak akan pernah mendapatkan cintamu kembali sampai kapanpun. Lalu kenapa kau kembali dan membuka kisah masa lalu kita yang suram dulu?

 Aku mengerti kau hanya tidak ingin aku tenang, kau selalu tidak ingin aku menemukan kebahagiaanku. Disaat aku mendapatkan sedikit ketenangan kau selalu kembali dengan gerak-gerik yang manis namun itu menyakitkan. Apa aku tidak boleh bahagia seperti kau bahagia dengan orang lain yang sudah lama kau panggil "sayang". Begitu ingin aku kau panggil seperti orang yang beruntung mendapaykanmu, namun aku terlalu bermimpi untuk mendapatkan panggilan itu. 

  Aku mengerti bahwa dulu kau tidak benar-benar tulus sayang padaku, kau hanya memanfaatkan keluguanku dan kau gunakan itu untuk mempermainkan cintaku. Memang aku mudah untuk merasakan rasa nyaman dari orang sepertimu, tapi kentapa kau tega mempermainkan perasaanku, padahal aku benar-benar tulus mencintaimu dulu. Kenapa kau begitu kejam berbuat demikian kepadaku, kenapa kau tak pernah sedikit peduli dengan perasaan kelinci kecil yang tak cukup tegar sepertiku. kapan ini akan berakhir? semua permainan mu yang tak pernah sekalipun aku dapat menebaknya. Walaupun ingin rasanya aku membalas semua yang pernah kamu lakukan kepadaku, tapi aku tak cukup pintar dan kuat untuk melakukan itu semua.

 Seribu cara telah ku lakukan agar aku dapat kebal dengan rayuanmu yang begitu membuatku terpikat setiap kau mengucapkanya kepadaku. Aku tidak ingin mengais-ngais lagi masa lalu yang tidak pernah aku inginkan. Tapi usahaku seperti tidak pernah menghasilkan sesuatu yang bisa membuat aku lupa akan kenanganmu. Dan setelah kau membuat aku nyaman akan kedatanganmu kembali, dengan cepat kau menghilang dan tidak pernah meninggalkan jejak sedikitpun sehingga membuatku kembali merindukanmu. Memang rasa ini menyakitkan, namun aku hanya bisa menerima ini, menerima takdirku ini hingga nanti akan datang seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku dan tidak memanfaatkan keluguanku sepertimu. Namun itu semua terlalu sulut untuk ku lakukkan jika kau terus-menerus datang dan kembali sesuka hatimu. Sampai kapan kau akan begini? Kapankah kau akan membiarkanku tenang dan menikmati kebahagiaanku dengan sesorang yang tulus mencintaiku?

" Untuk Kau yang disana 
Semoga kau menyadari betapa sakitnya aku atas perlakuanmu
Aku begitu menyayangimu sehingga sulit ku menghapusnya
aku hanya ingin kau tidak mempermainkan aku lagi
mempermainkan perasaanku yang sudah cukup sakit atas perlakuanmu
semoga kau memberikan sedikit kebahagiaan kepadaku
untuk hidup tenang dan jauh darimu "

Selasa, 26 November 2013

Apa maksud hatimu?


 Hai kau yang disana, Selamat malam dan bagaimanakah kabarmu hari ini? Apakah harimu selalu lancar? apakah kau baik-baik saja? Apa yang sibuk kau lakukan sampai-sampai kau tak sempat memberi sinyal akan kabarmu beberapa hari ini. Memang aku terlalu cerewet, terlalu bising karena pertanyaan-pertanyaanku yang tak lain semua mengkhawatirkanmu. Aku tahu memang aku tak berhak menuntut kamu memberi tahu semua aktivitasmu apalagi mengabariku. Aku tahu sudah lama tak ada status diantara kita, bahkan pertemanan pun enggan untuk di jalani.

  Memang dari dulu aku tak pernah mahir membaca pikiranmu, karena kau wanita yang misterius menurutku. Kamu sangat sulit dimengerti jalan dan arah pandanganmu. dan itulah yang membuat kau berbeda dengan gadis yang lainya. Berbagai cara telah aku lakukan untuk mempelajari setiap gerak-gerikmu, namun itu tak pernah berhasil untuk aku lakukan. Ya, dan sekarang pun aku semakin tersiksa dengan perlakuanmu beberapa hari ini, yang membangkitkan nostalgia cerita lama yang pernah ku bangun denganmu. Membuat semua percuma akan kenangan yang telah aku bakar hingga 70% bersama kepedihan dulu, seakan abu yang harusnya hilang diterpa angin tidak bergeming dan malah diubah menjadi setitik embun yang mengalir kembali dan meresap pada hati ini. Kenapa kau selalu menarikku disaat kau ingin dan kau butuh namun kau begitu saja melepaskanku saat kau rasa aku sudah tidak diperlukan kembali? Apa maksud semua ini yang begitu membuat sakit hati ini? lebih sakit dari pertama kau tinggalkan dulu. Apa kau tidak pernah merasakan kepedihan boneka mu ini yang dulu pernah kau rawat dan kau sayangi.

  Pesan singkatmu yang kau kirim ke ponselku seolah mengatakan kau rindu padaku, namun ternyata itu hanyalah perangkap yang telah kau siapkan agar aku kembali masuk dalam bayang-bayangmu. Kau tambahkan variasi dengan menanyakan kabarku, namun di balik itu hanya ada senyuman kebahagiaan karena aku tidak bisa menemukan kebahagiaan sampai saat ini. Dimanakah letak hatimu? Aku semakin jauh tidak mengenalimu, sangat berbeda dengan kau yang dulu. Kau yang dulu lebih anggun dari Barbie, lebih mempesona dari Cinderela dan lebih mulia dari Dewi Quan In. 

  Memang menderita selama ini aku harus bersikap dingin di depanmu, pura-pura tidak memperdulikanmu lagi, dan menhindar setiap kali berpapasan denganmu, walau sebenarnya lalat yang terbang bebas pun tahu aku selalu berusaha untuk mengintip sedikit saja Parasmu walaupun aku harus menjadi seorang pencuri dengan perlahan mengendap, namun hanya itulah yang bisa aku lakukan. 

  Sedikit doaku terjawab, Parkir motor sekolah menjadi saksi bisu bahwa aku bisa melihat dan menatapmu dengan jelas pada jarak tidak lebih dari 10 jengkal tangan, aku begitu kagum dengan dirimu. Aku begitu senang karena dimatamu masih terpancar pandangan yang dulu ketika pertama kau memandangku. Dan aku berharap semoga dengan pandangan itu, kau mengetahui segala rindu yang ku rasakan, semoga semua bisa kau rasakan pada tatapan pedih ini. Tatapan manja mu dulu sempat terlihat dengan sedikit sapaan yang kau ucapkan. Saat itu kau bagaikan permata kecilku yang kembali ke pelukanku. Tapi seketika kau hancurkan dengan sedikit muka kesalmu. Apakah kau sengaja agar kau tak tampak rindu padaku? lalu apakah maksud dari semua ini?

  Hingga malam ini, di setiap doaku dan setiap nafas ku berhembus. Aku masih setia untuk mendoakanmu, aku tidak pernah lupa menyisipkan permohonan agar kau bahagia. Dan aku juga meminta kepada Bapa ku di Surga agar dikirimkan Nya malaikat pemersatu antara kita. Jika itu terlalu berlebihan, cukup aku meminta agar Malaikat surga menyampaikan setitik rinduku padamu dan menyampaikan harapan harapan dan perasaanku kepadamu. Dan ketika aku tertidur nanti dan tiba-tiba mataku tak bisa terbuka kembali, aku sudah tenang karena semua isi hatiku yang ku pendam selama ini telah terkabar kepadamu, walaupun tanpa aku tahu Maksud hatimu selama ini .

Senin, 25 November 2013

Ku Akan Menjaga Kenangan Ini


 Malam yang begitu sunyi dengan hamparan kegelapan yang begitu luas membentang di sepanjang langit negeri nan Indah ini, namun sayang hatiku tak kan pernah seindah langit malam ini. Hanya renungan dan ratapan yang setiap malam ku nanti. Tak pernah bisa berbuat lebih untuk mengejar setitik harapan, harapan untuk menikmati kebahagiaan bersama seseorang yang sejak dulu selalu ku dambakan. Dia sangat jauh, sehingga anganku tak pernah sampai untuk menggapainya. Meskipun aku selalu merasa dia di dekatku, namun bayangan itu selalu menghilang setiap kali melihat dia lebih bahagia bersama orang lain.

  Aku tahu kita tidak akan pernah mengulang kisah cinta yang indah seperti dulu. Tak akan pernah tumbuh kepercayaan dalam hatimu akan kesetiaanku menunggu kembalinya perasaan itu. Hingga saat ini aku masih setegar batu karang yang tak pernah rapuh di terjang derasnya ombak. Hati ini masih murni menyayangimu.

  Mungkin kau masih tak mau peduli tentang apa yang terjadi padaku. Sampai aku tak tahu lagi harus berbuat apa untuk mengembalikan sedikit saja embun perhatianmu yang mampu membasahi kekeringan hatiku dulu. Ingin sekali rasanya ku putar waktu menuju masa lalu dan tidak ingin rasanya waktu berjalan maju dan merenggut semua kebahagiaanku dengan mu dikala itu. Apakah Sang Saka sudah enggan mempersatukan aku denganmu lagi? Apakah Sang pencipta tidak ingin makluk ciptaanya ini merasakan kebahagiaan dengan orang yang disayanginya?

  Menunggu dan selalu menunggu datangnya suatu hari nanti, hari dimana aku akan mendapatkan semua keinginanku. Mendapatkan kembali permataku yang telah lama hilang. Memukan kembali secerca cahaya hidupku. Karena hanya serpihan kasih sayangnya saja yang bisa membawaku kembali ke jalan kehidupanku yang selama ini jauh ku tinggalkan demi mencari dirinya.

  Tuhan, aku hanya ingin dia sadar sekarang, aku hanya ingin dia tahu akan kehadiranku. aku ingin dia kembali menjadi seseorang yang aku kenal waktu pertama kita bertemu dulu. Aku hanya ingin dia sebagai bagian dari kebahagiaanku. Aku ingin kembali ke masa itu,biarlah berjalan dan terjadi saat ini. 
Apa itu terlalu berlebihan Tuhan? 
Bolehkah itu terjadi Tuhan? 
Sampai kapan aku harus menunggu saat itu terjadi kembali Tuhan?

  Dan hingga aku lelah nanti dan sudah tidak berdaya untuk mempertahankan perasaanku,Tuhan. Jangan biarkan Dia menyesal dan berbalik untuk mencari ku. Karena aku tidak ingin dia merasakan betapa menderita yang ku alami sekarang. karena aku hanya ingin dia Bahagia dan tidak pernah menjatuhkan Air mata lagi.

26-08-2013
Semarang, Tempat Kenangan Kita
Dimana kita menghabiskan waktu yang lama untuk pertama kalinya
Semoga suatu saat nanti kita dapat dipertemukan kembali
Dalam terpaan ombak yang menjadi saksi kesetiaanku dulu
Kesetiaan akan menjaga Cinta yang tulus untukmu
Sampai Aku menutup Mata untuk selamanya
Aku Akan Selalu Menjaga Perasaan Ini 
* Initial T *

Sabtu, 23 November 2013

Cinta yang Salah


 Pagi ini terasa berbeda dengan pagi-pagi yang telah aku lewati sebelumya. Entah karena cuaca yang  tak begiyu cerah atau perasaan hati ini yang sudah tak bisa berkata-kata lagi. Udara meresap dalam menembus kulit sampai pada bagian tulang pun terasa begitu tajam. Tidak seperti biasa Matahari terlambat menunjukkan cahayanya. Seperti aktifitasku biasnya yaitu membeli Surat Kabar di pagi hari. Hal ini sudah menjadi aktivitasku setiap hari terhitung sejak Kakak ku satu-satunya memutuskan berkuliah di luar kota 2 Tahun silam. Ya, dengan sebuah sepeda bermotor kesayanganku aku melaju dengan setengah tidak sadar, untung saja aku masih bisa mengendalikan laju sepedamotorku itu.

  Sesampai dirumah aku heran kenapa hari ini aku tak begitu bahagia ketika menerima sebuah pesan singkat dari Gadis yang telah menjalin hubungan 6 bulan denganku. Ucapan selamat pagi yang dia ucapkan sudah tidak lagi membuatku terapresiasi bahkan sedikit keinginan untuk membalasnya. Aneh, memang aneh. Padahal 2 minggu silam aku masih mengharapkan ucapan selamat paginya tersiar tanpa jeda siap pagi di Ponselku dan aku selalu merasa begitu bersemangat dan selalu ku balas dengan rasa sayang tulus dari hatiku. Aku berfikir apa itu karena ada orang lain yang telah memperhatikanku melebihi dia? Lalu Pesan siapa yang kelak aku tunggu? (berbisik dalam hati). Tak lama keraguanku pun terjawab dengan Pesan singkat dari wanita yang tak lain adalah Yola.
  " Selamat pagi aham sayang :*" 
Tanpa berfikir lagi aku pun menjawabnya 
  " Pagi juga Yola sayang :*"
Memang dia bukanlah kekasih atau TTM ku, namun panggilan mesranya tiap pagi menunjukkan dia perhatian padaku, dan saat ini aku hanya menganggapnya sebagai Sahabat yang membantu menghilangi rasa jenuhku dengan Pacarku sekarang . Sapaan setiap pagi itu sudah menjadi kebiasaan dalam hubungan rumitku ini. Entah apa aku masih sayang dengan Marsha atau kah aku sudah terlalu nyaman dengan Yola. Namun samapai saat ini aku masih menanamkan keyakinan bahwa aku tidak boleh menyukai sabahatku sendiri.

  Berselang 30 menit aku baru menjawab ucapan selamat pagi Marsha dengan seribu alasan mengapa akhir-akhir ini aku selalu terlambat dalam membalas ucapan selamat paginya.
" Selamat pagi juga sayang :*"
" Keboo banget sih kamu, kok jam segini baru bangun?"
" Maaf sayang tadi bantuin ayah dulu manasin mesin mobil" 
" Bagus ya, sekarang aku dinomer duakan, apa susahnya sih bales selamat pagi, nggak ada 1 menit juga" Dengan ocehanya yang semakin membuatku hilang rasa semangat pagi yang seharusnya terasa membara. Tanpa ku hiraukan panjang aku hanya mengucapkan
" maaf sayang, aku mandi dulu ya terus siap-siap kesekolah. kamu hati-hati dijalan ya "
 Dengan sms itu berarti berakhirlah sudah keharusanku dalam membalas pesan singkatnya. Walaupun kadang dia masih penasaran apa yang aku lakukan , tapi aku selalu membahasnya saat bertemu di sekolah nanti. Tanpa aku sadari ternyata aku terlambat karena terlalu terlena dengan balasan pesan Yola yang terntunya lebih menyenangkan ketimbang dengan Marsha.

****

Belum sampai di kelas tepatnya masih di depan tangga lantai dua tempat kelasku berada, berdiri Marsha dengan wajah yang terlihat kurang enak.
"Katanya tadi jam 5.40 sudah mandi dan siap-siap, kok bisa terlambat ke sekolah? kamu boncengin cewek lain ke sekolah lain ya?" tanya nya dengan curiga
" Nggak sayang, tadi macet" dengan bergegas aku ijin untuk meninggalkanya ke kelas untuk mengindari pertanyaanya yang sudah bisa ku prediksi akan menimbulkan rasa yang membuat ku muak.
Tak beberapa waktu berselang Yola lewat depan kelasku untuk mengampiri sahabat-sahabatku yang lain di kelas sebelahku. Entah kenapa, pagi ini aku merasa berbeda melihatnya, apa itu efek dari Marsha yang bersikap kurang mengenakkan akhir-akhir ini, apa aku yang sudah mulai terpikat olehnya? lalu aku bergegas menampik pikiran-pikiran tentangnya.

Saat pelajaran berlangsung, tiba-tiba ponsel di saku ku berdering, dan ternyata itu sebuah pesan singkat dari gadis yang tak lain Yola
"Aham,kamu lagi apa?"
"Aduh, lagi pelajaran nih, kebetulan kamu sms, aku jadi nggak suntuk lagi"
"iya dong, siapa dulu aku gitu... emangnya pacarmu yang monoton nggak pernah sms waktu pelajaran" sindirnya dengan sedikit membuatku tertawa
" Sialan lo, tapi kamu ada benernya juga "
 Tanpa ku sadari kami terlalu asik berbalasan pesan sampai aku lupa status yang sudah ku sandang sekarang dan aku benar-benar tak memikirkan lagi kejadian tadi pagi yang membuatku tak nyaman.

****
" Aham sayang, nanti sore main yuk ke pantas, aku suntuk di kos."
" Jam berapa sayang? sama siapa saja?"
" Jam 4 ya, kumpul di kos ku. Sama Kristi,Putri,Heny,Micil. kamu sekalian jemput Veny ya nanti, katanya dia mau ikut juga"
" Siap Komandan, kalau ada kamu pasti aku mau" dengan tersenyum aku pun mempersiapkan untuk pergi nanti

  Di Pinggiran pantai kami berdua menikmati waktu bersama dengan cara memisahkan diri dengan kelima sahabatku yang lain. Aku bercerita banyak tentang keseharian Yola.
" beginilah aku, aneh kan dalam keadaan aku masih sayang Rino tapi aku nggak mau diajak balikan dia" ceritanya dengan memandang hamparan ombak yang tersapu-sapu
" lho, kenapa? bukanya kamu suka banget sama Rino? apa nanti kamu ndak nyesel?"
" nggak lah, karena aham yang bikin aku ndak nyesel nantinya, hanya saja aham masih ada status sama Marsha"
 Sontak kami pun terdiam, ternyata benar dia sudah terlampau nyaman denganku, dan aku pun bingung mengartikan perasaanku yang secara tidak sengaja aku juga sudah terlena dengan kenyamanan ini.
" kamu bercanda ya? mana mungkin Yola suka sama aham ."
" ya, jalani aja Yola nyaman gini, kalo aham nyaman juga nggak masalah kan"

****

 5:00   pesan singkat dari Marsha mengagetkanku
" Sayang, maumu apa sih? dari kemarin sore kamu kemana aja? kok nggak ada kabar? "
Pertanyaan yang terdengar kurang mengenakkan menggantikan ucapan selamat pagi yang biasanya selalu tertulis dalam pesan singkat di ponselku. Tanpa berfikir panjang aku menjawabnya dengan cukup tenang
" Maaf sayang, Ponsel ku dari kemarin eror, jadi aku nggak bisa kasi kabar apapun, kamu jangan marah ya?"
Tanpa ada balasan selanjutnya membuat perasaanku tak tenang, aku begitu takut hal yang tidak diharapkan terjadi. Untuk pertama kalinya ucapan mesra selamat pagi dari Yola tidak aku hiraukan. dan aku masih tertuju pada ponselku untuk menunggu jawaban dari Marsha.

Sesampai di sekolah, aku menyusul di kelasnya, saat aku hendak masuk ke ruang kelasnya dia sudah terlihat muram wajahnya, aku takut dia akan marah dan tidak mau berbicara denganku lagi.
" Hai, sayang. kok mukanya cemberut gitu" aku bergegas duduk disebelahnya yang kebetulan masih kosong karena teman sebangkunya belum datang.
" Terus aja cuekin aku, aku nggak masalah kok"
" kan aku sudah bilang ponselku eror "
" ponsel eror atau pergi jalan dengan cewek lain? lagian akhir-akhir ini kamu sering giniin aku, apa kamu sudah nggak betah sama aku? "
 Sontak raut wajahku berubah seperti orang yang sedang berbohong, dan keringat dingin pun keluar dari poro-pori kulit ku, tapi aku berusaha mendamaikan keadaan dan meyakinkan kalo Marsha hanya asal tebak saja dengan kata-katanya tadi
" Ah kamu nggak percayaan, yaudah percuma aku ngejelasin " dengan cepat aku mencari perbincangan untuk meninggalkan dia, karena aku tidak mau  hal yang lebih buruk terjadi.

 Kantin tempat aku biasanya berkumpul dengan Yola dan teman-temanya pun mendadak menjadi sepi karena aku yang biasanya suka mengucap kata-kata yang membuat tawa menjadi seketika diam.
" aham kenapa? ada masalah dengan Marsha " tanya yola sedikit resah
" nggak papa Yol, ini cuma masalah kecil kok "
" lalu kenapa aham nggak bales pesan Yola tadi pagi? "
" maaf soal itu, tadi aku bangun kesiangan jadi tidak sempat untuk membalas pesanmu, Yol "
" oh yasudah, kirain ada apa-apa dengan aham " jawabnya dengan tatapan manja.
 Ya dengan perhatian Yola yang melebihi Marsa itulah yang membuatku jadi merasa lebih betah disamping Yola daripada Marsha. Yola sosok yang penuh perhatian, jarang sekali marah namun dia tidak suka untuk di bohongi dan dia jarang nurut kalo disuruh ini itu, karena dia lebih suka kebebasan. Tapi semenjak dia dekat denganku, dia menjadi wanita yang agak penurut dan lebih teratur dibanding sebelumnya. Itulah yang membuatku berfikir aku lebih cocok dengan Yola ketimbang dengan Marsha.
  Monic, gadis keturunan China yang suka berteriak kegirangan setiap kali melihat cowok cakep seperti Robert Parkinson itupun datang menghampiri aku dan menanyakan beberapa pertanyaan padaku sambil sedikit menggoda aku.
" Ciee, yang kemarin ngedate di pantai"
" Ah kamu bisa aja cik, lagipula kita pergi kan bareng yang lain"
" ah tapi aku diceritain sama putri, kalo kamu berduaan terus sama Yola. Udah aku bilang kan, kamu cocoknya sama Yola, ham"
" Masa sih cik? kok cicik bisa bilang gitu" tanyaku dengan penuh penasaran
" dari dulu kan aku memang nggak setuju kalo kamu dengan Marsha, lagian kamu lebih nyaman dengan Yola kan "
" Tapikan kita sahabatan cik "
" Iya nggak harus pacaran juga kan, jadi sahabat tanpa status juga boleh, yang penting kalian nyaman"

Aku langsung terdiam dan memikirkan kata-kata cicik yang terdengan seperti perintah untuk memutuskan Marsha. Tapi sekali lagi aku masih bisa mengendalikan perasaanku dan perbincangan ini pun berakhir dengan senyumanku yang tidak terkandung sebuah jawaban atas pertanyaan Monic yang terakhir.

****

Hari ini pelajaran kelasku dan kelas putri berakhir lebih awal, hanya ada aku dan putri dikantin berduaan menunggu Yola dan yang lain keluar dari kelasnya.
" Put, aku pinjam ponselmu ya " sambil menjamah ke arah Putri
" iya ham, tapi jangan macam-macam ya" dengan sedikit bercanda
" siap deh, cuma mau lihat foto-foto kita waktu di pantai kemarin" balasku
 Saat aku melihat isi dalam ponsel putri tanpa sengaja Yola mengirim pesan singkat pada putri
" Put, aham sudah pulang belum"
Aku tidak langsung menyampaikan pesan itu pada putri, dan tanpa berfikir panjang aku melihat semua pesan percakapan Yola dan Putri, aku langsung syok karena dalam pesan tersebut menjelaskan bahwa Yola benar-benar menaruh perasaan padaku meskipun aku masih terikat dengan Marsha.

Perasaan ini begitu mengganggu, aku tidak mau mengecewakan persahabatan dan cinta, tapi disisi lain aku sudah bosan dengan Marsha. Sisi hatiku pun tidak mau bernegosiasi lagi, segel untuk melarang buat terpikat dengan Yola sudah hancur berkeping-keping. Hatiku merasa kalo aku memang ditakdirkan untuk Yola, karena aku sudah begitu nyaman dengan nya. Namun semua itu tak terlepas dari ketakutan akan apa yang terjadi jauh kedepan jika seandainya kami nanti tidak bertahan lama, tapi sekali lagi kata-kata monic tentang menjalani pada zona nyaman begitu mendorong keras akan  keinginanku mendekati Yola

****

" Sayang, maaf mungkin ini berat, tapi akhir-akhir ini aku ngerasa berbeda. Kita sudah nggak bisa mertahani apa yang kita bangun sebelumnya. aku juga sudah capek kalo kamu selalu curiga, selalu marah, selalu menuduhku dengan pikiran negativmu. semoga kamu bahagia dengan jalanmu "
Dengan berat hati aku mengirimkan Pesan yang sebenarnya tidak berasal dari hatiku, karena aku masih sangat menyayangi Marsha.
" Sayang kamu ngomong apa? maafin aku selama ini. Aku nggak mau kita pisah. aku bakal lakuin apapun supaya kamu masih nyaman sama aku "
" Nggak kok, kamu nggak perlu lakuin apa-apa. cuma yang aku tau kita sudah berbeda "
" nggak mau sayang, aku nggak siap akan ini, aku nggak mau kita putus"
 5x ponselku berbunyi dan itu panggilan dari Marsha, namun aku tak mau ini berlarut dan aku pun tak sekalipun mengangkatnya
" Kenapa kamu nggak mau ngangkat telponku? aku mau bicara baik-baik . semua masih bisa kembali sayang" Pesanya yang membuatku akhirnya menerima telpon ke 6 nya.
 Rasa ketidak tegaan terhadap Marsha semakin bertambah setelah dia menangis tanpa henti di percakapan jarak jauh kita.
" Kenapa kamu tega, aku sayang banget sama kamu. tapi segampang itu kamu bilang putus"
aku hanya bisa diam dan mendengarkan semua kesedihanya
" kamu anggap apa hubungan kita selama 6 bulan? "
" benar kan ada cewek lain yang bikin kamu kayak gini"
" kenapa kamu tega ? Aku akan tetap memanggil kamu sayang walaupun kamu nggak membalasnya "
Semua kata-kata yang membuat aku menangis di dalam hati, aku teramat masih menyayangi Marsha, tapi aku lebih respek dengan rasa sayang Yola. Semenjak saat itu aku tidak bisa berhenti memikirkan kondisi Marsha dengan seribu Pesan keputusasaanya yang setiap jam terkirim di ponselku. hingga akupun berfikir pesan inilah yang terakhir pada jam 23:23 " Mungkin kamu bisa tidur dengan nyenyak, tapi aku tertidur agar hari esok aku tidak bisa membuka mataku kembali karena sudah tidak ada cinta yang menyemangati hidupku, dan supaya besok kamu sudah tidak perlu mencariku lagi" Pesan itulah satu-satunya yang ku balas dengan menitihkan sedikit peluh. "Selamat tidur, semoga mimpi indah. jangan pikirkan hal-hal negativ lagi ya"

****

  Sudah dua hari ini aku menghindar dari sahabat-sahabatku. Mereka pun sudah mengetahui jika aku sudah tidak berhubungan dengan Marsha lagi, tanpa harus aku berbicara pada mereka. Yola yang berkali-kali memerhatikanku namun aku selalu buang muka padanya. Memang aku masih tidak tega karena sahabat Marsha menjauhi ku karena aku berbuat demikian. Aku mendapat kicauan kabar jika Marsha terus saja menangis di kelas sampai seluruh wajahnya membengkak. Aku merasa tidak tega dan berusaha memintamaaf secara langsung. Tepat setelah aku membicarakanya secara langsung, kecemasanku akan Marsha sedikit sirna karena aku sudah melihat keadaanya secara jelas.

*** Bersambung ***