Hai kau yang disana, Selamat malam dan bagaimanakah kabarmu hari ini? Apakah harimu selalu lancar? apakah kau baik-baik saja? Apa yang sibuk kau lakukan sampai-sampai kau tak sempat memberi sinyal akan kabarmu beberapa hari ini. Memang aku terlalu cerewet, terlalu bising karena pertanyaan-pertanyaanku yang tak lain semua mengkhawatirkanmu. Aku tahu memang aku tak berhak menuntut kamu memberi tahu semua aktivitasmu apalagi mengabariku. Aku tahu sudah lama tak ada status diantara kita, bahkan pertemanan pun enggan untuk di jalani.
Memang dari dulu aku tak pernah mahir membaca pikiranmu, karena kau wanita yang misterius menurutku. Kamu sangat sulit dimengerti jalan dan arah pandanganmu. dan itulah yang membuat kau berbeda dengan gadis yang lainya. Berbagai cara telah aku lakukan untuk mempelajari setiap gerak-gerikmu, namun itu tak pernah berhasil untuk aku lakukan. Ya, dan sekarang pun aku semakin tersiksa dengan perlakuanmu beberapa hari ini, yang membangkitkan nostalgia cerita lama yang pernah ku bangun denganmu. Membuat semua percuma akan kenangan yang telah aku bakar hingga 70% bersama kepedihan dulu, seakan abu yang harusnya hilang diterpa angin tidak bergeming dan malah diubah menjadi setitik embun yang mengalir kembali dan meresap pada hati ini. Kenapa kau selalu menarikku disaat kau ingin dan kau butuh namun kau begitu saja melepaskanku saat kau rasa aku sudah tidak diperlukan kembali? Apa maksud semua ini yang begitu membuat sakit hati ini? lebih sakit dari pertama kau tinggalkan dulu. Apa kau tidak pernah merasakan kepedihan boneka mu ini yang dulu pernah kau rawat dan kau sayangi.
Pesan singkatmu yang kau kirim ke ponselku seolah mengatakan kau rindu padaku, namun ternyata itu hanyalah perangkap yang telah kau siapkan agar aku kembali masuk dalam bayang-bayangmu. Kau tambahkan variasi dengan menanyakan kabarku, namun di balik itu hanya ada senyuman kebahagiaan karena aku tidak bisa menemukan kebahagiaan sampai saat ini. Dimanakah letak hatimu? Aku semakin jauh tidak mengenalimu, sangat berbeda dengan kau yang dulu. Kau yang dulu lebih anggun dari Barbie, lebih mempesona dari Cinderela dan lebih mulia dari Dewi Quan In.
Memang menderita selama ini aku harus bersikap dingin di depanmu, pura-pura tidak memperdulikanmu lagi, dan menhindar setiap kali berpapasan denganmu, walau sebenarnya lalat yang terbang bebas pun tahu aku selalu berusaha untuk mengintip sedikit saja Parasmu walaupun aku harus menjadi seorang pencuri dengan perlahan mengendap, namun hanya itulah yang bisa aku lakukan.
Sedikit doaku terjawab, Parkir motor sekolah menjadi saksi bisu bahwa aku bisa melihat dan menatapmu dengan jelas pada jarak tidak lebih dari 10 jengkal tangan, aku begitu kagum dengan dirimu. Aku begitu senang karena dimatamu masih terpancar pandangan yang dulu ketika pertama kau memandangku. Dan aku berharap semoga dengan pandangan itu, kau mengetahui segala rindu yang ku rasakan, semoga semua bisa kau rasakan pada tatapan pedih ini. Tatapan manja mu dulu sempat terlihat dengan sedikit sapaan yang kau ucapkan. Saat itu kau bagaikan permata kecilku yang kembali ke pelukanku. Tapi seketika kau hancurkan dengan sedikit muka kesalmu. Apakah kau sengaja agar kau tak tampak rindu padaku? lalu apakah maksud dari semua ini?
Hingga malam ini, di setiap doaku dan setiap nafas ku berhembus. Aku masih setia untuk mendoakanmu, aku tidak pernah lupa menyisipkan permohonan agar kau bahagia. Dan aku juga meminta kepada Bapa ku di Surga agar dikirimkan Nya malaikat pemersatu antara kita. Jika itu terlalu berlebihan, cukup aku meminta agar Malaikat surga menyampaikan setitik rinduku padamu dan menyampaikan harapan harapan dan perasaanku kepadamu. Dan ketika aku tertidur nanti dan tiba-tiba mataku tak bisa terbuka kembali, aku sudah tenang karena semua isi hatiku yang ku pendam selama ini telah terkabar kepadamu, walaupun tanpa aku tahu Maksud hatimu selama ini .
Xoxoxo !! XD awfull
BalasHapus